Hari Kebangkitan Nasional 2018 : “Bangkit, Bergerak, Berubah atau Punah”

Jakarta, Portal Infokom – United Nation Comimisons for Indonesia (UNCI) PBB dibentuk untuk mendamaikan Indonesia-Belanda. Namun, Belanda melakukan propaganda; “Indonesia dan TNI sudah hancur”.

Jenderal Sudirman yang mendengar propaganda tersebut, langsung merancang serangan ke Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret 1949, walaupun hanya 6 jam menduduki Yogyakarta, namun tujuan untuk menunjukkan Indonesia dan TNI masih ada, berhasil dan membuat dunia terbelalak.

Sejarah tersebut diakui Mayjen TNI (purn) Prijanto dari Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI), memberikan ilham tersendiri untuk mengadakan Peringatan Harkitnas pada Minggu (20/5/2018).

Di gandenglah Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Jakarta. Peringatan Harkitnas digelar di gedung Konvensi TMPN Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan.

Panitia bermaksud, walau hanya 2,5 jam, diharapkan bisa membuka mata siapapun, bahwa ‘kemanunggalan TNI-Rakyat’ masih ada dan telah membuahkan bersatunya para purnawirawan dengan rakyat, untuk bersatu menyikapi situasi Negara dan bangsa.

Acara tersebut kemudian menjadi headline di beberapa media online; “Mantan Jenderal Berkumpul, Serukan Kembali ke UUD 45 Asli”.

Selama 3 hari mengudara, berita tersebut menembus hampir lebih 150 ribu pembaca dengan share hampir 1500. Komentar positif pun membanjiri berita tersebut.

Sasaran tercapai, walau hanya 2,5 jam, rakyat kini mengetahui, masih banyak Perwira purnawirawan dan rakyat yang bermental patriotik dan militan. Hasratnya tidak pernah padam. Ajakan untuk Kembali ke UUD 1945 asli menggelinding di masyarakat bak bola salju.

BIAR BADAN HANCUR LEBUR
KITA KAN BERTEMPUR
MEMBELA KEADILAN SUCI
KEBENARAN MURNI

DI BAWAH DWI WARNA PANJI 
KITA KAN BERBHAKTI
MENGORBANKAN JIWA DAN RAGA
MEMBELA IBU PERTIWI

DEMI ALLAH MAHA ESA
KAMI NAN BERSUMPAH
SETIA MEMBELA NUSA DAN BANGSA
TANAH TUMPAH DARAH

Di atas adalah lirik Hymne Taruna. Hymne tersebut telah menghanyutkan undangan purnawirawan.

Lebih 100 purnawirawan dari berbagai angkatan lulusan, menyahut ikut menyanyikan, ketika Ketua Panitia Prijanto memberikan prakata menyanyikan hymne tersebut. Suasana berubah haru, hikmat membangkitkan jiwa kejuangan.

Cetusan kesetian hati dan tekad para purnawirawan kepada nusa, bangsa dan tumpah darahnya, membangun suasana dalam gedung penuh semangat patriotisme.

Tema peringatan “Bangkit, Bergerak, Berubah atau Punah” mengajak rakyat Indonesia untuk bangkit dan bergerak jiwa, pikiran, ucapan dan perilakunya, sesuai peran, kapasitas dan kesempatan masing-masing, untuk mengelola semua aspek Astagatra, agar berubah menjadi ketangguhan dan keuletan bangsa untuk mencapai cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, aman, tenteram, adil dan makmur.

Apabila abai, lalai, tak peduli terhadap perkembangan lingkungan strategis global, regional dan nasional, hanya satu kata yang pas, kita akan “Punah” tutur Prijanto.

Masih penjelasan Prijanto, tema peringatan karena adanya pernyataan dari beberapa tokoh. Konon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengatakan, telah terjadi “Revolusi Senyap” setelah reformasi dan diamandemennya UUD 1945. Jenderal TNI (Purn) Widjojo Soejono menyebut telah terjadi “Invasi Senyap”.

Sedangkan Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo mengindikasi terjadinya “Penetrasi Senyap” sehingga asing bisa menguasai Indonesia tanpa harus menduduki dengan kekuatan senjata.

Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto mantan Kasal mengatakan kepunahan Indonesia bukan berarti tidak ada secara fisik, tetapi punahnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita. Nilai-nilai asing telah menggeser nilai-nilai Pancasila.

Mantan Dankormar, Letjen TNI Mar (Purn) Suharto malah lebih tajam lagi; akibat UUD 1945 dikudeta, mengakibatkan situasi dan kondisi buruk saat ini. Sedangkan para aktivis menyebutnya, musuh sudah berada di ruang keluarga sehingga kedaulatan nyaris punah.

Kegalauan atas Negara bangsa sangat mewarnai acara Harkitnas. Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso memimpin ‘Mengheningkan Cipta’ mengajak mendoakan arwah pahlawan dan mendoakan Ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati.

Pengantar tersebut persis dengan lantunan paduan suara “Ibu Pertiwi” dari Menwa Jakarta.

Dirigen paduan suara tidak ingin larut dalam kesedihan. Dirigen paduan suara tidak kurang akal, kurang lebih 460 undangan, diajaknya menyanyi lagu “Maju Tak Gentar” sebagai curahan semangat.

Maju tak gentar, Membela yang benar
Maju tak gentar, Hak kita diserang

Maju serentak, Mengusir penyerang
Maju serentak, Tentu kita menang

Bergerak, bergerak, Serentak, serentak
Menerkam menerjang terkam

Tak gentar, tak gentar, Menyerang  menyerang
Majulah majulah menang

Dalam menyikapi tema, menjawab pertanyaan undangan, nara sumber Taufiequrachman Ruky, Hariman Siregar, Ichsanuddin Noorsy, Salamuddin Daeng dengan moderator Hendrajit, pada acara ‘Ngobrol Bersama Tokoh’ dengan gamblang memberikan ilustrasi dan informasi keadaan Negara.

Semua sepakat dan mengajak untuk kembali ke UUD 1945 asli untuk selanjutnya disempurnakan, sabagai solusi mengatasi keadaan saat ini.

Sesungguhnya seruan ajakan kembali ke UUD 1945 sudah bergulir lama. Konsepsi Kaji Ulang UUD hasil amandemen dan beberapa orang utusan yang membawanya sudah ada di Lemkaji MPR RI. Di saat peringatan Harkitnas 2018, secara faktual para Purnawirawan TNI/Polri bersama rakyat juga telah menggulirkannya.

Bagaimana dengan TNI yang memiliki Sapta Marga dan Sumpah Prajurit? Bagaimana pula dengan Polri yang memiliki Tri Brata? Apakah TNI dan Polri tidak sadar bahwa Konsitusi hasil amandemen keluar dari roh Pancasila? Mari kita tunggu (TS)

 

%d blogger menyukai ini: