Gerakan Kebangkitan Indonesia Bareng IARMI Peringati Hari Kebangkitan Nasional 2018

Jakarta, Portal Infokom – Sejumlah tokoh nasional dan para mantan Jenderal serta para purnawirawan berkumpul menyerukan kembali ke UUD 1945 asli dalam sebuah seminar sekaligus dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2018.

Dengan mengusung tema `Bangkit, Bergerak, Berubah, atau Punah` acara tersebut diprakarsai Rumah Kebangkitan Indonesia dan Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) DPP DKI Jakarta, di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan Nasional, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (20/5/2018).

Pada  acara ini  turut hadir Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso (Mantan Panglima TNI), Jenderal TNI (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo (Mantan Kasad), Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhi Purdijatno (Mantan Kasal), Marsekal TNI (Purn) Imam Sufaat (Mantan Kasau), tokoh Malari Hariman Siregar, mantan Ketua KPK Taufiequrachman Ruky, ekonom Ichsanuddin Noorsy, dan pengamat Salamudin Daeng, Komandan Menwa Jayakarta Raden Umar, para perwakilan raja nusantara, serta sederet tokoh lainnya.

Ketua Panitia Harkitnas 2018, yang juga mantan Wagub DKI Jakarta, Mayjen TNI (Purn) Prijanto, mengungkapkan tema `Bangkit, Bergerak, Berubah atau Punah` bermaksud mengajak bangsa ini untuk bangkit dan bergerak. Mulai dari jiwa, pikirannya, ucapannya, perilakunya, sesuai dengan peran dan kapasitas serta kesempatan masing-masing, dengan melakukan berbagai upaya, pekerjaan dan tindakan.

“Kita harus bisa mengelola semua aspek Astagatra sehingga berubah menjadi ketangguhan dan keuletan bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, aman, tentram, adil dan makmur,” katanya di lokasi acara.

Prijanto mengungkapkan, mantan Presiden SBY pernah mengatakan, terkait reformasi dan amandemen UUD 45 sebagai `Revolusi Senyap`. Prijanto juga menyebut Jenderal Widjojo Soejono juga telah mengamati gelagat saat ini seperti adanya `invasi senyap`.

Menurut Prijanto, Letjen Sayidiman Suryohadiprojo menyebutnya dengan `penetrasi senyap`.

“Apabila kita baca di WAG (whatapps group), banyak para aktivis muda mengistilahkan `musuh sudah di ruang keluarga`. Berarti sudah terdapat di dalam negeri ini. Dengan prakiraan-prakiraan itu, maka kami sepakat mengangkat tema ‘Bangkit, Bergerak, Berubah, atau Punah’,” tutur Prijanto.

Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhi Purdijatno mengatakan, berbagai persoalan Bangsa Indonesia dan sumber kegaduhan yang terjadi saat ini, berpangkal dari diamandemennya UUD 1945. “Untuk itu kami ingin mengajak semua pihak ikut mendorong dikembalikannya UUD 1945 asli, seperti sebelum diamandemen,” ujar Tedjo Edhi Purdijatno.

Tedjo juga mengingatkan ancaman dari bangsa asing yang mendikte bangsa Indonesia, salah satunya dengan amandemen UUD 45. Bagaimana di sana disebutkan presiden tidak harus orang Indonesia asli, melainkan warga Indonesia.

Berarti, kata dia, orang asing yang sudah punya kewarganegaraan Indonesia, bisa menjadi presiden. Sebagai bangsa yang berdaulat, menurutnya, tidak seharusnya Indonesia didikte. “Kita harapkan Indonesia ke depan memiliki pemimpin yang kuat yang mampu menyelesaikan permasalahan bangsa ini,” katanya. (sam)

%d blogger menyukai ini: